Pada saat kita masih kanak-kanak dulu, mungkin kita masih ingat bahwa anak-anak wajib tunduk kepada orang tua, orangtua tidak pernah salah, bahkan menatap mata orangtua kita saja kita tidak berani. Semua aturan orang tua seperti hukum yang wajib kita patuhi. Mungkin kita merasa kesal pada waktu itu, kita bisa juga berkata dalam hati : “ Lihat kalau saya sudah besar …. Kalian tidak akan bisa atur saya lagi “. Bisa jadi kita tertekan pada waktu itu, mau protes kita takut, tetapi terus menerima kita merasa tertekan.
Tetapi setelah dewasa dan keluar meninggalkan rumah kita, kita baru merasakan betapa pendidikan seperti itu mengajarkan kita untuk bisa menghormati orang yang lebih tua, sehingga kita menjadi orang yang ber etika dan disukai dalam pergaulan.
Kini sewaktu kita memiliki anak, mungkin kita merasa ingin menerapkan disiplin yang sama seperti yang kita terima di masa kecil kita, namun betapa terkejutnya kita sewaktu anak kita berani menatap wajah kita dengan mata yang menyiratkan ketidak senangan, akankah kita menerapkan cara yang kita terima seperti pada waktu kecil kita ? Dan mengatakan kepadanya : Jangan menatap seperti itu !” Dengan suara yang keras ? Bisa jadi emosi kita meluap pada saat itu, kita terpancing untuk menggunakan kekuasaan kita sebagai orang tua untuk menekan anak kita.
Sadarlah bahwa zaman telah berubah, apa yang dulu dianggap tabu kini menjadi hal yang wajar, globalisasi telah mengikis nilai-nilai moral, bahkan anak-anak kita menjadi korban dan tidak kebal dengan pengaruh semacam itu. Pada saat seperti itu, baik bagi kita untuk menghirup udara panjang dan menenangkan emosi kita. Tataplah anak kita dengan tatapan mata yang lembut, cobalah kita untuk memposisikan mata kita sejajar dengan matanya, ini berarti kita sebagai orang tua perlu merendahkan tubuh kita. Bicaralah dengan lembut bahwa kita menyayanginya dan tidak ingin menyakitinya. Pada saat anak melihat mata yang lembut yang ada tepat dihadapannya, ia akan segera menyadari bahwa orangtuanya bukanlah orang yang harus dia musuhi. Bahkan tidak jarang kami harus meminta maaf kepada mereka atas sikap keras kita sehingga membuat dia tidak nyaman. Hal inilah yang saya dan istri terapkan, dalam banyak kejadian mereka akhirnya memeluk kami dan menangis di pelukan. Apa yang dia pelajari ? Anak akan belajar bahwa kekerasan bukanlah cara menyelesaikan masalah, dan dia dapat mengerti bahwa kata MAAF bukanlah kelemahan tetapi bukti kerendahan hati, Ini akan membantu dia kelak sewaktu berurusan dengan orang lain untuk menerapkan cara yang sama dengan damai dan jika perlu meminta MAAF.
Tetapi apa jadinya bila seandainya kita memperlakukan anak kita dengan cara emosi ? Yang pasti adalah dia akan terluka secara emosi, dan dia akan belajar bahwa emosi adalah cara untuk menyelesaikan persoalan, ini akan terpatri dalam ingatannya dan sampai besar dia akan mengingat terus hal itu sewaktu berurusan dengan orang lain.
Anak adalah harta yang paling berharga .
Tetapi setelah dewasa dan keluar meninggalkan rumah kita, kita baru merasakan betapa pendidikan seperti itu mengajarkan kita untuk bisa menghormati orang yang lebih tua, sehingga kita menjadi orang yang ber etika dan disukai dalam pergaulan.
Kini sewaktu kita memiliki anak, mungkin kita merasa ingin menerapkan disiplin yang sama seperti yang kita terima di masa kecil kita, namun betapa terkejutnya kita sewaktu anak kita berani menatap wajah kita dengan mata yang menyiratkan ketidak senangan, akankah kita menerapkan cara yang kita terima seperti pada waktu kecil kita ? Dan mengatakan kepadanya : Jangan menatap seperti itu !” Dengan suara yang keras ? Bisa jadi emosi kita meluap pada saat itu, kita terpancing untuk menggunakan kekuasaan kita sebagai orang tua untuk menekan anak kita.
Sadarlah bahwa zaman telah berubah, apa yang dulu dianggap tabu kini menjadi hal yang wajar, globalisasi telah mengikis nilai-nilai moral, bahkan anak-anak kita menjadi korban dan tidak kebal dengan pengaruh semacam itu. Pada saat seperti itu, baik bagi kita untuk menghirup udara panjang dan menenangkan emosi kita. Tataplah anak kita dengan tatapan mata yang lembut, cobalah kita untuk memposisikan mata kita sejajar dengan matanya, ini berarti kita sebagai orang tua perlu merendahkan tubuh kita. Bicaralah dengan lembut bahwa kita menyayanginya dan tidak ingin menyakitinya. Pada saat anak melihat mata yang lembut yang ada tepat dihadapannya, ia akan segera menyadari bahwa orangtuanya bukanlah orang yang harus dia musuhi. Bahkan tidak jarang kami harus meminta maaf kepada mereka atas sikap keras kita sehingga membuat dia tidak nyaman. Hal inilah yang saya dan istri terapkan, dalam banyak kejadian mereka akhirnya memeluk kami dan menangis di pelukan. Apa yang dia pelajari ? Anak akan belajar bahwa kekerasan bukanlah cara menyelesaikan masalah, dan dia dapat mengerti bahwa kata MAAF bukanlah kelemahan tetapi bukti kerendahan hati, Ini akan membantu dia kelak sewaktu berurusan dengan orang lain untuk menerapkan cara yang sama dengan damai dan jika perlu meminta MAAF.
Tetapi apa jadinya bila seandainya kita memperlakukan anak kita dengan cara emosi ? Yang pasti adalah dia akan terluka secara emosi, dan dia akan belajar bahwa emosi adalah cara untuk menyelesaikan persoalan, ini akan terpatri dalam ingatannya dan sampai besar dia akan mengingat terus hal itu sewaktu berurusan dengan orang lain.
Anak adalah harta yang paling berharga .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar